SIAPA PRESIDEN TERPILIH?

Hari–hari ini seluruh perhatian kita tertuju ke sidang MPR RI yang sedang berlangsung di Jakarta. Ada beberapa perkembangan menarik yang dapat kita lihat yaitu bahwa mulai dari acara pelantikan sudah ada tanda–tanda bahwa lembaga kepresidenan mulai dikembalikan kepada pengendalian rakyat yang terjelma MPR. Contoh yang paling kentara adalah MPR RI tidak berdiri pada waktu presiden masuk ruangan sidang, malahan dicemooh. Yang kalau boleh dibilang ini merupakan hal yang baru, menarik dan membangkitkan harapan kekuasaan yang tertinggi di Negara kita adalah Rakyat.
Kalau kita melihat dari kejadian diatas, akan timbul suatu bahwa siapa yang pantas untuk dipilih menjadi presiden oleh rakyat. Yang paling tidak tersinggung atau marah apabila mengalami kejadian seperti yang dialami oleh B.J.Habibie. memang waktu ditanya komentarnya oleh pers,presiden Habibie mengatakan bahwa itu adalah bagian dari Demokrasi. Waktu zaman Orde Baru tidak mungkin hal seperti itu terjadi,tetapi di zaman reformasi ini mungkin untuk seterusnya menjadi suatu hal yang biasa.jadi dapat di tarik kesimpulan bahwa mulai saat ini presiden bukan penguasa yang menindas rakyat.
Kira-kira siapa yang menjadi presiden berdasarkan pilihan rakyat? Sebagai partai yang mendapatkan suara terbanyak PDIP mencalonkan Megawati sebagai presiden. Partai Golkar yang mendapatkan suara kedua terbanyak mencalonkan B.J.Habibie. sedangkan poros tengah yang dikomandoi oleh Amin Rais mencalonkan Gus Dur atau Abdurahman Wahid sebagai presiden.tentunya kita dapat melihat bahwa kans yang di  miliki oleh Megawati amat besar yaitu pada saat ini,didukung juga oleh partai  kebangkitan Bangsa yang merupakan pengumpul suara ketiga terbanyak. Dari segi intelektual Megawati mungkin Cuma bersekolah di Indonesia, tetapi di belakang Megawati,hadir begitu banyak dukungan para pakar,yaitu Kwik Kian Gie, Dimyiati Hartono laksamana sukardi dan lain-lain.
Dari manufer-manufer politik yang terjadi,menjadi menarik bahwa kekuatan poros tengah menjadi semakin kuat setelah partai Golkar bergabung dalam pemilihan ketua MPR dimana Amin Rais memang telak melawan Matori Abdul Djalil,dan Akbar Tanjung berhasil menancap kukunya di kursi tertinggi ketua DPR RI. Kalau dilihat dari pernyataan yang dikeluarkan nampak kentara bahwa lama-lama Gus Dur akan mundur untuk mengalikan dukungan kepada Megawati. Tetapi kalau melihat kebelakang yaitu waktu mengetahui PDIP kemungkinan akan menang dalam pemilu 1999. Terjadi polemic berkepanjangan dimana banyak ulama tidak setuju kalau presiden RI adalah wanita. Sehingga partai-partai Islam bersatu untuk mencalonkan Gus Dur karena Amin Rais tidak mendapatkan suara dalam pemilu 1999. Kalau scenario ini juga terjadi dalam pemilihan presiden?
Ada hal-hal lain terjadi yang bisa kita pahami,yaitu pada pemilihan ketua DPRD DKI. Calon ketua DPRD dari PDIP ternyata kalah dari calon dari TNI/POLRI,walaupun ada alas an yang disampaikan bahwa lebih baik calon dari TNI/POLRI daripada dari poros tengah.contoh lain dalam pemilihan utusan Daerah untuk MPR RI mewakili Nusa Tenggara Timur, semua wakilnya berasal dari partai Golkar. Contoh lain yang terjadi dapat kita lihat lebih jelas dengan terpilihnya tokoh kotroversial yang pasti akan mendukung Golkar/Habibie dalam sidang umum MPR ini,yaitu Baramuli.
Kita lihat calon dari partai Golkar yaitu B.J.Habibie, selama masa kepemimpinan Habibie,banyak kritik dan hujatan yang terjadi, mulai dari tidak adanya penyelesaian tuntas masalah mantan presiden Suharto, masalah Aceh, masalah Ambon, masalah yang besar yaitu masalah Timor-Timur dan masalah Bank Bali. Kalau mau jujur pasti sebagian besar anggota PDIP tidak akan memilih Habibie. Amin Rais adalah mantan pengurus ICMI dimana lembaga tersebut pernah dipimpin oleh Habibie, walaupun dalam beberapa waktu terakhir kita melihat sepertinya ada pertentangan. Tetapi  bukti yang bisa kita lihat,yaitu untuk menggolkan Amin Rais menjadi ketua MPR RI, partai golkar menggabungkan diri dengan kekuatan poros tengah untuk mengalahkan PDIP. Dalam hal ini bukan masalah Golkar mencari dukungan ke poros tengah tetapi factor untuk saling menguntungkan juga perlu diperhitungkan.
Calon yang brikut  adalah Abdul Rahman Wahid atau Gus Dur.kalau di bilang tidak ada pendukung, toh poros tengah memasukan namanya dalam bursa saat ini. Dari segi kesehatan, Gus Dur agak kesulitan untuk berjalan karena matanya buta, walaupun katanya sudah berobat ke luar negri.
Kita coba mengkaji lebih jauh, saat ini kekuatan poros tengah sudah bergabung bersama partai Golkar. Ada sementara pihak berharap pada saat pemilihan presiden partai Golkar tetap mencalonkan Habibie, poros tengah tetap mencalonkan Gus Dur, berarti kekuatan PDIP untuk memuluskan jalan Megawati berhasil.
Adalagi hal yang menarik. Kita tau bahwa Amin Rais adalah tokoh Muhamadyha (mantan ketua umum Muhamadyah), dalam perebutan kursi ketua MPR mengalahkan Matori Abdul Djalil yang adalah ketua partai Kebangkitan Bangsa yang didukung oleh NU yang juga merupakan organisasi islam terbesar di Indonesia.

Dari masalah-masalah ini, timbul satu pernyataan prediksi tentang figure presiden kita periode brikut. Apakah presiden itu dapat memperbaiki masalah yang kita hadapi saat ini. 

Disqus Comments