PRO–KONTRA KEHADIRAN KOREM DI FLORES MENGAPA DITOLAK?


Dalam beberapa hari terakhir ini masyarakat Ende ramai membicarakan kedatangan tim markas besar TNI-AD, yang datang ke Flores, khususnya Ende, untuk menjajagi tempat penampungan para prajurit dari Korem Wira Dharma Dili beserta keluarga. Tentang hal ini pernah ditegaskan oleh KASAD Jendral Subagio H.S. bahwa Ende adalah salah satu tempat yang dipilih. Ada beberapa hal yang menarik yang bisa dicatat dari rencana tersebut. •Yang pertama, pada saat ini propinsi NTT sibuk menampung pengungsi Timtim, termasuk keluarga prajurit yang bertugas di Timtim. •Yang kedua, dari sudut ekonomi masyarakat kota Ende akan mendapat keuntungan karena kita akan terpicu untuk menyesuaikan dengan permintaan akan kebutuhan rumah tangga. Keuntungan lainnya transportasi dari Ende ke seluruh kota se–daratan Flores bahkan seluruh NTT akan berkembang pesat. Karena pembangunan akan diarahkan untuk mendukung keberadaan korem tersebut. Yang juga ikut menikmati keuntungan ialah para petani kita. Harga hasil pertanian, terutama: sayur mayur, akan semakin tinggi. Selain keuntungan pasti ada kerugiannya. Kota Ende yang sudah cukup padat dengan tambahan penduduk yang begitu banyak akan semakin padat. Berikut beberapa dampak negtif yang diperkirakan akan muncul dengan kehadiran mereka.
•Satu, potensi kerawanan bisa bertambah. Korem yang akan dipindahkan ke Flores (Ende) adalah Korem yang pada mulanya bertugas mendukung proses integrsi Timor–Timur ke dalam wilayah RI. Jadi, para prajurit sudah terbiasa hidup dalam perilaku di daerah rawan. Kota Ende yang relatif aman bisa terpengaruh. Apalagi disini meraka ditempatkan dalam posisi dan kedudukan sama.
•Dua, yang perlu kita sadari juga ialah kalau Timtim tidak memilih opsi untuk merdeka, Korem tidak akan dipindahkan ke Flores. Jadi, pemindahan ini tidak terencana, sehingga kecil kemungkinan diadakan studi kelayakan. Ini berarti kita orang Flores harus menerima lagi beban untuk menanggung kesalahan kebijakan yang dibuat oleh pimpinan nasional tentang Timor–Timur.
Ada hal yang perlu juga kita perhatikan, kecuali Pulau Jawa yang penduduknya banyak, Korem hanya ada di ibu kota propinsi di Indonesia. Berikut beberapa contoh Korem yang ada di ibu kota kabupaten: Korem Baladika Jaya di Malang, Korem di Solo, Purwokerto dan di beberapa kota lainnya di Jawa. Dan semua kota itu kemudian berkembang menjadi kotamadya. Kalau pertimbangannya kota Ende akan menjadi kotamadya, bolehlah. Tetapi apakah hanya itu? Kalau dibandingkan dengan jumlah penduduk yang dimiliki oleh lima kabupaten yang ada di Flores, satu Kodim untuk satu kabupaten sudah lebih dari cukup. Seperti sudah kita ketahui bersama DPR RI telah menambah tiga propinsi baru di Indonesia. Mengapa tidak dipikirkan untuk memindahkan Korem Wira Dharma kesalah satu propinsi yang baru dibentuk? Kalau seandainya ada hambatan dengan para prajurit karena tidak mengenal kondisi propinsi yang baru, mari kita bandingkan dengan PNS, sesuai dengan janjinya siap ditempatkan dimana saja. Apa lagi prajurit TNI. Dari aspek topografis kalau kota Ende dipaksakan berkembang maka bisa merusak seluruh ekosistem yang ada. Kalau perkembangan kota Ende tidak diatur dengan baik sesuai rencana tata kota maka dalam beberapa tahun kedepan, Ende akan mendapatkan malapetaka dibandingkan keuntungan yang didapat dalam jangka pendek ini. (Penulis adalah Ketua Jurusan Manajemen FE Universitas Flores) Flores Pos, 21 September 1999

Disqus Comments